Bila modal kerja bersih menurun, keuntungan perusahaan cenderung naik. Tetapi, kenaikan keuntungan ini, di saat yang sama juga akan menaikkan risiko likuiditas perusahaan, yang berakibat kebijakan pembiayaan jangka pendek perusahaan berdampak pada modal kerja bersih yang pada akhirnya melibatkan pertimbangan risiko, dan tingkat pengembalian (Risk Return Trade Off). Dalam data yang telah kami hitung tentang modal kerja bersih perusahaan, diketahui angka yang semula pada tahun 2004 dan 2005 bernilai minus (kecil) yang mengindikasikan perusahaan ini untung, tidak diikuti dengan data tahun-tahun berikutnya yang cenderung mengalami kenaikan (2006-2007). Hal ini menunjukkan kinerja perusahaan yang menurun.
Secara garis besar, performa perusahaan apabila dipandang dari sisi CCC (Cash Convertion Cycle) bisa dikatakan baik, walaupun memang tingkat CCC-nya mengalami fluktuatif dari 2004 hingga 2007. Pada dasarnya, apabila angka CCC semakin kecil, itu menunjukkan bahwa pengelolaan modal kerjanya bagus. Dan yang dialami perusahaan pada tahun 2004-2005 sempat mengalami penurunan, namun dari 2005-2006 mengalami kenaikan signifikan, meskipun pada tahun berikutnya (pada tahun 2007) mengalami penurunan. Tetapi secara garis besar, performanya stabil.
Mengapa pada tahun 2006 bisa mengalami kenaikan? Hal itu disebabkan tingginya tingkat DSI (Days of Sales Invnetory) yang terjadi karena besarnya perbandingan antara HPP dan persediaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar