Selasa, 28 April 2009
KESIMPULAN
Menurut kelompok kami, kondisi perusahaan tiap tahunnya berbeda-beda, karena fluktuasi angka DER apabila dibandingkan dengan pergerakan harga saham penutupan tiap tahunnya mengalami perubahan yang berfluktuasi. Seperti contoh pada tahun 2004 ke 2005 angka DER mengalami penurunan yang diikuti juga oleh harga saham dari 2004 ke 2005. Menurut Trade-off theory 1, DER yang turun menunjukkan utang berkurang yang mencerminkan kondisi perusahaan yang berkinerja baik, namun hal itu justru tercermin pada harga saham yang turun, hal ini mungkin disebabkan adanya faktor lain yang mengakibatkan turunnya harga saham tersebut. Tapi terjadi anomali pada tahun 2007, dimana harga penutupan saham pada akhir tahun melonjak menjadi Rp 6.000 yang berarti harga saham ini melonjak sebesar 500% lebih dibandingkan penutupan harga saham tahun sebelumnya. Banyak hal yang mempengaruhi sehingga terjadi hal tersebut, tapi yang jelas dilihat dari tingkat DER pada tahun 2007 ini nilai perusahaan bisa dikatakan paling maksimal.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar